Ada Cinta di Hati Gus Irul

May 21st, 2012


Oleh Tanwirul Mubarok*


Seperti hari-hari sebelumnya, suasana pondok al-Firdaus berjalan seperti biasa. Sebuah pondok besar di pinggiran kota Jombang. Para santri sejak pukul empat pagi telah berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan jama’ah subuh, ada juga yang berangkat pukul tiga untuk bermunajat kepada Allah. Memang waktu sepertiga malam adalah waktu yang sangat hening untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebuah kecintaan luar biasa antara sang hamba dengan sang Khalik akan diterjemahkan dalam tindakan sujud sambil mengalirkan air mata, sebuah penyesalan luar biasa atas apa yang kemarin dilakukan.


Jama’ah shubuh adalah aktivitas yang diwajibkan pondok tersebut, dan yang tidak melaksanakan akan terkena ta’zir. Tidak heran jika setiap hari ada anak yang membaca al-Quran di depan ndalem sebelum berangkat sekolah, bukan karena dia terlalu ngefan al-Quran melainkan karena tidak ikut jama’ah shubuh.


Apalagi Gus Irul, Farid, Haroen dan Hilmi, empat santri yang tidak asing di telinga pengurus pondok. Gus Irul nama lengkapnya Tanwirul Mubarok asal Nganjuk, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Irul mendapat gelar gus karena memang dia putra kiai besar di daerahnya. Farid asal Bogor, tubuhnya besar dan tinggi putra juragan ikan, yang juga penggemar berat sepak bola, jadi jangan heran jika tiap kali Persik main, dia tidak pernah absen kena ta’zir. Haroen santri bertubuh subur, teman-teman memanggilnya gendut. Di samping itu, ia juga mendapat rekor kategori pecinta bantal, karena sepondok tak ada yang bisa membangunkan ketika bantal sudah di kepalanya. Dan yang terakhir adalah Hilmi, Hilmi Matin itulah nama lengkapnya. Namun, karena tubuhnya yang paling kecil di antara teman yang lain, ia medapat julukan gepenk. Tentang latar belakangnya tidak banyak santri yang tahu termasuk ketiga kawannya, yang jelas ia berasal dari kabupaten Kendal.


Warung kopi milik bu Sub adalah tempat singgasana pertama sebelum ke sekolah. Di sana mereka bisa mengabsen satu persatu santri putri yang hendak pergi ke sekolah. Warung kopi memang tempat yang paling nyaman, disamping bisa merokok dengan tenang, warung kopi juga bisa dijadikan media diskusi ala santri. Tak jarang permasalahan seputar pondok, pelajaran, bangsa dan politik kerap jadi bahan perbincangan. Bahkan masalah pribadipun menjadi bahan diskusi.


Di pondok al-Firdaus, semua santrinya diwajibkan ikut sekolah formal, dari tingkat MI sampai MA. Madrsah Aliyah terbagi menjadi dua yaitu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dan Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN). Status MAKN lebih favorit dari pada MAN karena di MAKN pelajaran agama lebih diunggulkan, belum lagi tambahan bahasa Arab dan Inggris yang menjadi bahasa keseharian di kelas. Kebetulan Gus Irul club sekolah di MAKN.


”Kopi empat mak!” pesan Farid pada bu Sub. ”Wah gila Penk, kemarin aku lihat santri putri yang cuantik sekali,” kata Gendut memulai pembicaraan. ”Ah…kamu Ndut, kayak matamu sudah  bisa membedakan mana cewek cantik dan tidak? ” ejek Gepenk sambil menyalakan rokok Dji Sam Soe yang sejak tadi dipegangnya.


”Cantik mana sama yang aku lihat kemarin di depan gerbang sekolahan? ” sahut Farid seakan tak mau kalah dengan Gendut. ”Ya jelas cantik yang kulihat donk! matanya, bibirnya, wah sempurna …,” jawab Gendut sambil menirukan lagu favoritnya Andra.


”Wah kemarin aku juga lihat, mungkin malah lebih cantik dari yang kalian lihat, kacamatanya itu lho yang membuat dia semakin manis,” kata Gepenk seolah tak mau tersaingi oleh kedua kawannya. ”Siapa namanya?” kata Gus Irul yang tiba-tiba ikut dalam perbincangan mereka. Memang, biasanya kalau Farid, Gepenk dan Gendut sedang berbicara cewek, Gus Irul memilih diam. Entah kenapa tiba-tiba Gus Irul merasa tertarik dengan percakapan itu.


Gendut, Gepenk, Farid hanya diam. Bagaimana tahu namanya, bertemu saja baru sekali, itupun juga beberapa detik. Tapi sinar wajahnya benar-benar dapat menarik perhatian ketiga sobat karib itu. Setelah diskusi agak alot tentang nama santri itu, keluarlah sebuah keputusan bersama, yaitu mencari informasi tentang identitas santri tersebut.


”Hmmm… lupa jalan ke sekolah ya mas, atau kangen dengan tabokan mautku ?”. Tiba-tiba suara pak Toni, sang penguasa kesiswaan masuk ke warung lewat pintu belakang. Keempat santri mbeling itu hanya bisa bengong saling pandang. Saking kagetnya, Gepenk tidak sadar sampai memasukkan rokok yang masih hidup ke sakunya.


Hari ini adalah hari senin, seperti biasa madrasah melakukan upacara bendera. Namun mereka telah sepakat tidak ikut upacara. Karena sudah ketahuan Waka Kesiswaan, mereka harus menerima ganjarannya. ”Berdiri semua !” teriak lantang pak Toni. Akhirnya mereka harus berdiri di depan kantor sampai jam pertama habis.


”Mau jadi apa kita diperlakukan seperti ini,” gerutu Gus Irul kepada ketiga temannya. ”Apa kita harus berdiri di sini sampai siang?” ungkap Farid yang sudah merasa kelelahan. ”Benar, kita manusia bukan hewan, hukuman sih hukuman tapi jangan yang tidak mendidik seperti ini donk !” protes Gepenk sambil membenahi tali sepatu sekalipun niatnya adalah untuk istirahat sebentar.


”Gelebuk…,” tiba-tiba suara orang jatuh membuyarkan percakapan mereka. ”Gendut pingsan!” teriak Gus Irul. Lalu Gus Irul dan Farid membopong tubuh gendut yang beratnya bukan main ke kantor P3K. Sedangkan Gepenk langsung menuju kantor tepat di depan dia berdiri. Entah apa yang mau dilakukanya.


Sesampainya di pondok, mereka langsung tidur, mengingat hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi mereka. Bayangkan saja, berdiri empat jam di depan kantor, sampai gendut pingsan.


Sore harinya mereka melakukan aktivitas seperti biasa yaitu mengulang kembali pelajaran yang telah diterima di sekolah, atau yang lazim disebut Taqror. ”Gimana coy ! tentang santri misterius yang kemarin kau ceritakan, udah tahu namanya belum ?” tanya Gus Irul di sela-sela taqror. ”Wah tumben Gus, kamu tanya babakan wanita ?” ujar Gendut seolah tak percaya dengan pertanyaan Gus Irul.


”Namanya Qusyairy… ya Qusyairy, anak kelas 1 MAKN,” jelas Gepenk dengan semangat. ”Kalau yang saya temui kemarin namanya Tamsih, wah.. benar-benar cuantiiik, apalagi senyumnya wah.. bisa klepek-klepek kamu,” kata Farid yang tak mau kalah dengan Gepenk. ”Eri, namanya Eri, saya berani taruhan kalau Eri lebih cantik dari pada Quroisy apalagi Tamsil,” kata Gendut sambil mengulang nama santri idaman teman-temannya sekalipun salah penyebutan.


”Kalian semua sudah kenalan tho ?” tanya Gus Irul meyakinkan. ”Belum, tapi tahu dari teman,” jawab ketiganya dengan serempak, seolah sudah dikomando. ”Tahu nggak coy…kemarin waktu pulang sekolah, aku juga sempat melihat seraut wajah yang tidak kalah cantiknya dengan santri yang kalian ceritakan. Sayangnya aku tidak sempat menanyakan namanya,” cerita Gus Irul.


Sejak awal, Gus Irul memendam rasa penasaran yang luar biasa kepada santri putri berkacamata yang telah dilihatnya. Entah mengapa ada perasaan beda ketika pertama kali melihat tatapan mata disertai senyuman tipis yang keluar dari bibir sang jelita. Pandangan pertama ibarat sebuah paku yang tertancap pada dinding, sekalipun di dicabut, lubang bekasnya tak akan hilang dengan mudah.


Sungguh keadilan-Mu ya Allah. Engkau telah menciptakan dua pasang mata untuk melihat, dua pasang telinga untuk mendengar, dua pasang kaki untuk berjalan, dua pasang tangan untuk memegang. Tapi kenapa ya Allah, Engkau hanya menciptakan satu pasang hati pada diriku? Mungkinkah pasangan hatiku yang lain masih kau titipkan pada orang lain? Benarkan dia ya Allah?


Munajat tiap malam telah menghiasi keheningan malam. Gus Irul tetap khusuk dalam butiran doa-doa yang keluar di setiap nafasnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, mungkin keindahan ciptaan Allah telah mengantarkan relung kesadaranya dan menghentikan langkah yang selama ini jauh dari jalan-Nya. Atau malah sebaliknya, justru ini adalah ujian bagi sang pencari ilmu sejati. Sungguh sebuah dilema antara cinta sejati atau nafsu birahi. Gus Irul terus mencari petunjuk di keheningan sepi, tatkala teman-temannya sudah terbang melayang entah kemana.


Setiap hari kamis sampai sabtu, kelas 3 MAKN harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan. Dan yang ketahuan menggunakan bahasa selain itu, sanksinya adalah berdiri di depan  kelas putri.


”How are you pren ?” tanya Gepenk dengan cekikikan meledek Gus Irul yang memilih pura-pura sakit sariawan daripada harus berbicara bahasa penjajah. ”Orang ganteng begini kok dibilang ayu,” jawab Gus Irul tanpa dosa. Ternyata dia tidak sadar kalau dibelakangnya ada bu Titik, guru bahasa Inggris.


”Would you please go to class right now !” suruh bu Titik dengan menunjuk jarinya ke arah kelas putri sebelah. ”Yes Mrs.Titik !” dengan segera Gus Irul menjawab. Entah paham atau tidak perintah bu Titik, yang jelas dia masih duduk-duduk saja. ”Please now !” teriak bu Titik. Dengan segera Gus Irul pergi ke kelas 1 putri yang tempatnya lumayan jauh dari kelasnya.


Sebelum sampai di kelas putri, Gus Irul disambut oleh santri jelita yang beberapa hari yang lalu ditemuinya. Entah angin apa yang mengantarkan mereka bertemu kembali, yang jelas keduanya bernasip sama. Tatapan mata keduanya seolah-olah menuntun mereka untuk saling kenal lebih dekat. Namun terkadang norma agama masih menjadi kabut tebal untuk saling mengenal, bahkan berpandangan.


”Kena hukuman juga tho mas?” tiba-tiba suara merdu dari santri berjilbab putih menggetarkan hati sang pemuda bertubuh kekar, Gus Irul. ”I……iya” jawab Gus Irul singkat. Suasana tiba-tiba sepi sejenak tak ada kata yang terucap dari keduanya. Keduanya hanya berdiri sambil memegangi buku bahasa Inggris yang sejak tadi terlipat di tangannya.


”Namaku Tamsyi Qusyairiyah, namun teman-teman biasa memanggilku Eri”. ”Tanwir…Eh..Irul, maksudku Tanwirul Mubarok”. Gus Irul menyebutkan namanya meski agak grogi, sambil memandangi pepohonan yang ada di sekitar sekolah tanpa sedikitpun berani melirik wajahnya. Eri hanya menahan tawa kecil, melihat tingkah aneh kakak kelasnya.


Hukuman selesai, seperti biasa setelah bel istirahat, kantin sekolah tempat yang cukup layak dijadikan ajang melepas penat. Begitu juga dengan Irul club, ngopi sambil makan ote-ote dan tahu isi disertai rokok Dji Sam Soe yang tak pernah ketinggalan.


***


 


Hari ini malam jum’at, kegiatan pondok libur total, para santri diperkenankan keluar malam. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Gus Irul Club, mereka lebih memilih menghabiskan malam jum’at untuk duduk di atas kamar.


”Ada yang beda dengan perasaanku saat ini prend !” kata Gus Irul kepada ketiga kawannya. ”Maksudmu ?” tanya Farid penasaran. ”Ya… perasaan beda, aku sendiri tak tahu arahnya, sejak pertama kali aku bertemu Eri, seakan-akan tumbuh suatu harapan yang besar padanya,” kata Gus Irul serius.


”Ah…itu sih biasa Gus, paling juga cinta monyet, sebentar lagi juga hilang,” kata Farid meremehkan keseriusan Gus Irul. ”Ini benar-benar beda Rid, beda ketika aku suka pada Khusnul waktu MTs dulu, beda dengan Ni’amah anak haji Abdullah, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sungguh perasaanku pada Eri benar-benar beda, kalaupun saya ungkapkan pada kalian mungkin kalian tidak akan bisa memahaminya”.


”Awas Gus…jangan terlena oleh bokong-bokong tak bertanggung jawab yang akan melunturkan niat sucimu untuk mencari ilmu. Ingat Gus, kamu punya pondok, apa kelak pondokmu mau kau gadaikan?” kata Gendut serius.


”Entahlah Ndut, aku sendiri bingung, antara perasaan cinta pada sang makhluk dan takut pada Sang Pencipta. Kadang aku berpikir kalau ini adalah cobaan. Namun siapa yang tahu kalau ini adalah anugrah, sebuah anugrah yang telah Allah ciptakan pada makhlukNya. Bukankah itu nikmat dari Allah, apa lantas kita ingin mengingkari nikmatNya. Siapa yang mampu menolak rasa cinta, bukankah itu alamiah sekali. Namun aku yakin kalau apa yang kurasakan ini adalah anugrah”.


Farid, Gendut dan Gepenk hanya terdiam sambil menghisap rokok dalam-dalam.


Suasana menjadi hening tanpa suara apapun kecuali keramaian di depan pondok, suara para santri sedang nonton TV. Gepenk, Gendut dan Farid, hanya terdiam meresapi hikayat cinta dari lubuk hati Gus Irul.


”Wah romantis sekali Gus !” ungkap Farid. ”Kayak tahu romantis aja kamu Rid, ini bukan rokok makan gratis, tapi sebuah kenyataan yang keluar dari relung hati pangeran kita, Gus Irul,” ejek Gepenk, sambil menyalakan rokok yang entah ke berapa kalinya.


Malampun terus berlalu, cahaya bintang seolah turut mendengarkan cerita hati seorang anak adam yang sedang dirundung kerinduan pada sang pujaan hati. Sebuah kenikmatan tersendiri ketika kita bisa menceritakan sesuatu yang paling berharga pada orang lain. Itulah naluri manusia, selalu ingin mencinta dan dicintai. Memang sengaja Allah memberikan anugrah yang besar pada manusia yaitu mempunyai pasangan hidup yang kelak dapat dijadikan sebagai teman dalam mengarungi bahtera kehidupan.


Detik berganti detik, hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Dunia terus berputar yang tak mungkin bisa dikembalikan lagi. Itulah kehidupan, terus berjalan entah kapan bisa berhenti. Matahari tidak akan pernah jenuh menyinari kehidupan sekalipun banyak manusia ingkar pada sang Penciptanya. Seiring berputarnya sang waktu, benih-benih cinta yang tertabur di hati Gus Irul kini telah tumbuh subur.


Kini keduanya telah sama-sama merasakan kebesaran cinta yang telah dianugrahkan Allah. Namun, dinding norma agama terkadang sulit untuk ditabrak, sehingga komunikasi batin keduanya hanya bisa dilakukan dengan telepon dan surat. Itulah cara yang paling jitu dalam menerjemahkan bahasa cinta. Pertemuan antara keduanya bukanlah jalan terbaik, kecuali jika kerinduan sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Perpustakaan adalah tempat yang paling agung dalam dunia pendidikan, sebuah tempat berkumpulnya sumber ilmu. Tapi untuk sang pecinta yang tinggal di pondok, perpustakaan adalah tempat melepaskan kerinduan yang terpendam cukup lama.


Dari kejauhan terlihat langkah Gus Irul agak tergesa-gesa menuju tempat berkumpul ketiga sobat karibnya. ”Pangeran kita telah datang,” ucap Farid sambil memberi tempat duduk pada Gus Irul. ”Dia mau pergi Rid,” kata Gus Irul, terlihat wajah Gus Irul lain dari biasanya, wajah yang tak tampak lagi kelucuannya.


”Maksudmu Eri ?”. ”Ya…dia mau pindah pondok, sesuai permintaan orang tuanya yang ingin dia menghafalkan Qur’an. Entah di pesantren mana dia sendiri juga kurang tahu. Mungkin besok dia sudah boyong. Aku bingung Penk, kenapa seakan-akan hatiku tak rela dan tak ikhlas kalau Eri harus pindah dari pondok ini, padahal aku juga tahu kalau jalan yang ditempuhnya juga baik”.


”Pindah pondok kan tidak berarti putus, Gus !” ungkap Gepenk meyakinkan Gus Irul. ”Benar Penk ! semula aku juga berpikiran seperti itu, tapi ternyata orang tuanya telah menjodohkan Eri dengan seorang yang dia sendiri belum kenal, seorang putra kiai pemilik pondok yang akan menjadi tempat Eri menghafalkan Qur’an. Itulah yang kuketahui kenapa Eri harus pindah dari pondok ini. Aku bingung penk !”.


”Mungkin Eri belum menjadi jodohmu Gus ?” sambung Gendut. ”Tidak mungkin, aku yakin sekali hanya Eri seorang yang akan menjadi teman sejatiku kelak di hari tua, hanya Eri semata…,” ungkap Gus Irul dengan nada yakin.


Itulah kehidupan, siapa yang bisa menebak, semua berada di tangan Allah. Manusia  hanya bisa merancang, Tuhanlah menentukan. Namun terkadang cinta telah membutakan hati manusia akan takdir Tuhan. Kini hari-hari Gus Irul menjadi gersang, sepi dan tanpa hasrat sejak kepergian Eri. Tidak ada lagi surya yang memancar di kalbu Gus Irul. Keriangan Gus Irul sudah terkubur oleh perasaan sedih yang tak berujung.


Ketiga kawannya menjadi bingung, melihat perubahan yang ada dalam diri Gus Irul. Sudah enam bulan Gus Irul sering melamun, bahkan sulit diajak komunikasi. Dia lebih senang menyendiri daripada harus berkumpul dengan ketiga temannya. Gepenk, Gendut dan Farid sudah kehabisan cara untuk menyadarkan Gus Irul, agar kembali pada niat semula yaitu menuntut ilmu agama disebuah penjara suci ini. Padahal satu bulan lagi Ujian Nasional tiba, jika tidak lulus mustahil bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.


Dari hari ke hari keadaan Gus Irul semakin tambah parah. Gepenk yang menjadi kawan paling akrabnya berpikir keras, agar bisa mengembalikan kondisi Gus Irul seperti semula. Seorang Gus Irul yang lucu, kocak, berwibawa, dan cerdas kadang juga sedikit pemarah.


”Besok ikut aku Gus ya ?” kata Gepenk pada Gus Irul yang sedang melamun di teras depan pondok. ”Kemana ?”. ”Ke suatu tempat, yang biasa ku datangi ketika mendapat masalah, nanti juga kamu akan tahu”. Keduanya sepakat untuk pergi ke tempat yang dimaksud Gepenk, sengaja mereka tidak memberi tahu Farid dan Gendut.


Mula-mula mereka menuju Surabaya untuk sowan ke makam Sunan Ampel, dilanjutkan menuju Gresik ke makam Sunan Giri, tidak dilupakannya makam Mbah Asmara Qondi, Sunan Drajat dan sunan Bonang. Perjalanan tujuh hari merupakan perjalanan yang cukup panjang. Do’a dan  tawasul tertabur pada arwah waliyullah. Semoga percikan karomah para wali dapat menyirami hati gus Irul yang telah goncang.


Usaha Gepenk tidak sia-sia, pancaran wajah Gus Irul telah menunjukkan tanda-tanda kecerahan, sedikit demi sedikit hatinya menjadi tenang. ”Aku pingin pulang Penk ?” pinta Gus Irul pada Gepenk yang sejak tadi memelototi koran Kompas yang dipegang.


”Maksudmu ke pondok ?”. ”Bukan, tapi pulang ke rumah, aku rindu pada Abah dan Ibuku”. ”Oke, siapa takut !”.


Keduanya menuju Nganjuk, tempat di mana Gus Irul dibesarkan. Bus berhenti tepat di pertigaan. Lalu mereka memilih naik becak menuju pondok milik Gus Irul. Hanya dengan becak atau ojek kita bisa sampai ke pondok “Takhtimul Qur’an” yang diasuh oleh orang tua Gus Irul. Pemandangan desa yang asri kini telah ditanami bangungan-bangunan megah, sawah-sawah yang dulunya tempat mencari belut di masa Gus Irul kecil, kini telah berganti dengan bangunan rumah. Itulah watak manusia yang tidak akan pernah puas dalam memenuhi keinginannya.


”Berhenti pak !” Gus Irul memberi aba-aba pada tukang becak. ”Wah pondokmu besar juga Gus,” kata Gepenk. ”Ah…biasa, ayo masuk Penk ?” ajak Gus Irul. Terlihat para santri telah menundukkan kepalanya, sebuah penghormatan pada Gus.


”Eri…itu…Eri Penk!” teriak Gus Irul sambil menunjukan tangannya ke arah gerumulan santri putri, ketika melihat santri berkerudung putih sedang memegang seperangkat alat shalat. ”Waduh kumat lagi nich,” kata Gepenk lirih seakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihat Gus Irul.


”Lho kamu sudah kenal Eri tho le ?”. Tiba-tiba suara lelaki setengah tua terdengar dari belakang mereka. Lelaki itu tak lain adalah kiai Mustofa, Abah Gus Irul. Diciumnya telapak tangan tanda ketawadhuan sang anak pada Abahnya.


Mereka kemudian masuk ke ndalem, berkumpullah semua keluarga Gus Irul termasuk Ibu, adik, dan Abahnya. Abah Gus Irul kemudian memulai percakapan ringan seputar keadaan anaknya di pondok Jombang. Kemudian Abahnya juga bercerita tentang perjodohanya dengan putri seorang kiai dari Blitar yang tidak lain adalah Eri, Tamsyi Qusyairiyah.


Mungkin inilah jodoh yang telah digariskan oleh Allah pada makhluknya, sebuah anugrah besar, keagungan Sang Maha Pencipta. Betapa bahagia hati Gus Irul, kebahagiaannya mungkin tak cukup jika diskripsikan sekalipun 100 lembar folio habis hanya untuk mengungkapkannya.


”Saya panggil Mbak Eri, Bu ya ?” Izza, adik Gus Irul berkata kepada ibunya, sambil berjalan menuju pondok putri yang letaknya tepat dibelakang ndalem.


Gus Irul hanya cengingas-cengingis tidak tahu ungkapan apa yang harus dikatakan ketika bertemu dengan Eri. Apa kabar? Halo? kok disini? atau hanya diam-diam saja, mungkin inilah yang sekarang dirasakan oleh Gus Irul.


Tiba-tiba seorang santri putra datang dari arah pintu depan menuju ruang tamu Ndalem. ”Anu Yai…becak Gus Irul belum dibayar !”


 *) Penulis adalah Abituren Arjuna ’08 asal Gurah Kediri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tia

Senandung Biru