Bidadari Jilbab Biru
Pagi itu mentari
datang seperti biasa, hanya ada sedikit perbedaan yang tidak begitu mencolok.
Langit terlihat begitu biru, hanya ada sedikit awan putih di beberapa sudutnya.
Tapi suasana pagi itu terasa sekali ada yang berbeda, entah apa yang membuat
berbeda. Ada yang menggelitik dadaku, seakan menyuruhku untuk tersenyum tapi
tak tahu senyum kenapa dan pada siapa. Ah...., kenapa ya...., hari ini
ada yang terasa aneh bagiku.
Secangkir kopi panas
dan sebatang rokok filter menjadi awal pagiku. Keanehan yang indah pagi ini tak
begitu kuhiraukan, mungkin hanya efek dari cerahnya pagi.
Seperti hari-hari
kemarin, setelah mandi dan rapi aku berangkat kerja tanpa sarapan. Berjalan
menyusuri jalan desa yang aspalnya sudah tinggal separuh. aku tinggal di sebuah
desa yang agak jauh dari keramaian kota. Sebuah desa yang masih asri dengan
pepohonan yang rindang dan keramahan masyarakatnya. Terletak di selatan gunung
Sumbing, desa yang merupakan lintas batas tiga kabupaten
Magelang-Purworejo-Wonosobo. Setelah lulus sekolah SMP, aku langsung bekerja
untuk menyambung hidupku setelah kedua orang tuaku meninggal. Menjadi anak
tunggal dan yatim piyatu bukanlah masa kecil yang ringan buatku, tapi itu semua
menjadikanku tahan banting dan tidak cengeng menghadapi hidup. Aku bekerja di
sebuah percetakan sebagai desainer grafis. Penghasilanku memang tak banyak,
tapi sudah cukup untuk biaya hidupku sehari-hari dan menabung. Oh iya, umurku
25 tahun, pria lajang dengan umur setua ini di desaku sudah hampir punah,
tinggallah aku fosil hidup dari bujang lapuk desaku.
Sembilan tahun aku
hidup dengan penghasilanku sendiri, baik dari gaji kerjaku ataupun dari sawah
dan ladang peninggalan orang tuaku. Rasanya lama juga aku hidup sendiri,
rasanya lelah juga setiap hari harus nyuci, masak, tidur bahkan memecahkan
masalah sendiri. Huhhhh......, tapi siapa juga yang mau bujang tua ini. Aku
terlalu sibuk bekerja hingga tidak terfikir untukku berpacaran. Tapi aku yakin,
suatu saat nanti jodohku pasti akan datang padaku.
Dulu waktu masih
kanak-kanak, aku pernah punya sahabat namanya Nilam Sari. Dia anak budhe
Ningsih istri dari almarhum mantan kepala desa. Budhe Ningsih orangnya baik,
ramah, tapi kadang juga galak. Dia adalah teman sekelasku mulai dari waktu SD
sampai lulus SMP. Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolahnya di SMA 1
Wonosobo. Otaknya memang jauh tinggi di atasku, dia tidak pernah absen dari
peringkat satu bahkan sampai lulus SMA. Satu tahun dari kelulusannya dari SMA,
Nilam menikah dengan seorang sarjana ekonomi yang bekerja di sebuah bank swasta
di Wonosobo. Tak lama dari pernikahannya suami Nilam dipindah tugaskan ke
Jakarta. Nilam bersama suaminya pindah ke jakarta dan tinggal di sana, hanya
pulang beberapa kali dalam setahun. Sayangnya waktu anak perempuan satu-satunya
umur 2 tahun suaminya meninggal karena sakit jantung. Kini gadis kecil yang
bernama Adelia itu sudah 4 tahun. Nilam yang aku kenal hatinya terbuat dari
baja meteor, ketabahannya sering membuatku salut dan malu pada diriku sendiri.
Meskipun sendirian dia tetap berjuang untuk melanjutkan hidup. Usaha tokonya
tetap ia jalnkan walau tanpa suaminya.Akan tetapi karena ibunya sudah sepuh dan
tinggal sendiri, dia memutuskan menjual seluruh asetnya yang ada di jakarta dan
memulai hidup baru di desa bersama budhe Ningsih. Tiga hari yang lalu saat aku
beli rokok di warung dekat rumahku, aku bertemu dengan budhe Ningsih.
"Nak Dwi.....,
tadi pagi Nilam sudah pulang dari Jakarta. Sekarang dia mau menetap di sini
sama ibu dan usaha di sini" kata budhe Ningsih sambil berbelanja kebutuhan
dapur di warung yang sama denganku. aku cuma mengangguk-ngangguk dan
mendengarkan panjang lebar ceritanya. Rasa lapar yang tadinya sempat
hinggap ke perutku entah pergi ke mana. "Ya mbok dolan ke rumah....! nggak
kangen po? dulu kan tiap hari mainnya bareng terus sama Nilam." Sambil
menepuk pundakku dan tersenyum. "Iya bu...., nanti kalau sudah sempat tak
main. Sudah lama juga nggak ketemu si Nilam yang bawel itu." kataku
disambut tawa budhe yang renyah sambil berlalu. "Beneran lho, nanti tak
sayurke ongseng kacang panjang dan sambel trasi kesukaanmu".
Pagi ini aku sengaja
berangkat agak siangan, siapa tahu aku bisa menyapanya walaupun hanya sebentar.
Sambil sesekali menghisap rokok, aku berjalan sambil mengenang masa kecilku
bersama cewek tomboi yang bawel itu. Sampai-sampai karena larut dalam
lamunanku, aku tak menyadari ada yang memperhatikanku dari depan.
"He....., cowok
cengeng...!!! jalan yang bener donk, jangan sambil ngalmun." Seluruh
lamunanku buyar, dan aku dikejutkan paras cantik berjilbab biru dengan senyum
ketusnya. Sejenak kupandangi tanpa kata wajah itu.
"Mas Dwi.....,apa
kabar? udah ngelamunnya nanti dilanjutkan lagi." Katanya sambil
melambaikan tangan seakan mau memukul wajahku.
"Nilam...,
kabarku baik, sehat, cuma agak kurusan. Kamu sendiri gimana kabrnya?"
kataku sambil setengah malu.
"Alhamdulillah
baik, mas. Sekarang aku menetap di sini lagi. Kasihan ibu, sendirian di rumah.
Sekarang sombong ya, aku dah di rumah tiga hari, nongol aja nggak". Kata
Nilam masih bernada ketus.
"Maklum.....,
namanya juga bujangan. Semuanya serba sendiri. Hehehe....." kataku sambil
menggaruk kepala yang nggak gatal.
"Tumben jalan
kaki, mas? perasaan kemarin aku lihat njenengan naik motor." tanya Nilam
"Motorku di
bengkel, kemarin rusak. Jadinya hari ini aku naik angkot. Maklum motor
tua." Jawabku sambil nyengir.
"Ya udah
hati-hati jalannya jangan sambil ngelamun lagi, entar ketabrak mobil" Kata
Nilam sambil melanjutkan jalannya menuju warung.
"Siap,
bu....." jawabku sambil berlalu meninggalkan percakapan kami.
Belum jauh aku
berjalan Nilam yang kembali aku lamunkan memanggilku.
"Mas...., nanti
ke rumah ya...! TV ibu kumat lagi, gambarnya ilang semua. Kata ibu, biasanya
mas Dwi yang benerin"
"Oh ya, nanti
pulang kerja aku mampir." kataku sambil tetap melamunkan masa kecil kami.
Hari ini pekerjaan tak
terlalu banyak, waktuku terasa lebih panjang dari biasanya. Di sela-sela
pekerjaanku sesekali aku terbengong dan senyum-senyum sendiri. Kebetulan bosku
juga nggak datang, jadi hari semakin panjang saja rasanya. Setelah sholat ashar
aku pulang dengan naik angkot dan turun di pertigaan jalan menuju desaku.
Setelah sepuluh menit berjalan kaki, sampai juga di depan rumah kayu mewah
berarsitektur jawa yang masih tetap terawat walaupun sudah lebih dari satu abad
umurnya. Tak ada kesan angker ataupun rapuh, karena rajinnya budhe Ningsih
merawat penginggalan kakeknya itu.
"Masuk mas, udah
ditunggu dari tadi sama ibu." Sapa Nilam.
"Ya..., maaf tadi
pulangnya agak lambat, soalnya angkotnya kelamaan ngetem di terminal tadi"
jawabku.
Setelah masuk dan
duduk di ruang tamu dan di suguhi teh manis kental khas orang jawa dulu, aku
disuruh makan dulu dengan ongseng kacang panjang dan sambel trasi yang dimasak
budhe Ningsih. Memang semenjak orang tuaku meninggal budhe Ningsih sangat
perhatian padaku. Sering kali aku disuruh ke rumahnya hanya untuk dimasakkan
ongseng kacang panjang dan sambel trasi. Aku merasa kasih sayang budhe Ningsih
padaku sama seperti pada anaknya.
"Ini spesial
buatan ibu lho, mas. Katanya khusus buat mas untuk upah mbenerin tv. Karena
kata ibu mas nggak pernah mau kalau dikasih uang." Katanya sambil
menemaniku makan.
"Aku tuh sampai
ngiri, aku yang anaknya aja nggak pernah dispesialin kayak gini" Aku cuma
mendengarkan obrolannya sampai selesai makan. Sesekali Adelia berlarian bermain
bola di sekitar kami. "Setomboi ibunya" kataku dalam hati.
"Oh nak Dwi. Dah
dari tadi? maaf budhe barusan dari masjid. Tadi memang budhe pesen sama Nilam
agar nak Dwi biar makan dulu, baru mbenerin tvnya." Kata budhe Ningsih
sambil membawa mukena dan sajadah ke kamarnya.
"Biasanya sebelum
ahsar dah sampai rumah, tumben kok sampai sore banget pulangnya?" tanya
budhe Ningsih sambil duduk di kursi ruang keluarga.
"Itu motornya
lagi ngambek, masih di bengkel" sahut Nilam sebelum aku sempat
menjawabnya.
"Mbok ya itu
motor budhe dipakai dulu, lha wong motor ada dua. Semenjak Angga pergi ke
Sumatra di tinggal di sana, motornya banyak nganggur. Daripada nanti malah
rusak karena nggak pernah dipakai." Tukas budhe Ningsih.
"Makasih, budhe.
Besok juga dah jadi kok" jawabku sambil membongkar booster tv yang
kabelnya lepas milik budhe Ningsih.
Setelah selesai
memperbaili tv yang ternyata hanya kabelnya yang lepas karena kendor, aku masih
melanjutkan obrolan dengan Nilam, sedangkan budhe asyik menemani cucunya
bermain di ruang yang sama. Sesaat sebelum maghrib aku pamitan pulang karena
lampu-lampu rumahku belum kunyalakan dan ada pekerjaan rumah yang harus aku
kerjakan. Akupun pulang ke rumah dengan membawa bahagia. Aku merasa seperti
kembali mempunyai keluarga yang utuh, karena keramahan dan kehangatan mereka.
Beberapa hari sekali
sepulang kerja aku selalu disuruh kerumah budhe, entah mbenerin kompor gas,
mbenerin laptopnya Nilam, HP, genteng bocor, dan hal-hal semacam itu. Aku semakin
akrab dengan Nilam dan Adelia anaknya. Entah kapan mulainya, tapi aku merasakan
perlahan-lahan mulai menyayangi mereka. Aku tak tahu apakah Nilam juga
merasakan hal yang sama atau tidak. Seandainya iyapun, rasa itu mungkin hanya
sebatas rasa sayang seorang sahabat karib.
Suatu saat tempatku
bekerja telilit hutang yang banyak dan jalan satu-satunya adalah menjual semua
aset. Maka terjadilah, tempatku bekerja bangkrut dan tutup. Walaupun aku
kehilangan pekerjaanku, tapi tak ada kata nganggur buatku. Aku alihkan
kegiatanku mengurusi sawah dan ladang peninggalan orang tuaku yang sebelumnya
aku serahkan ke pamanku untuk digarapnya. Sesekali ada aja orang yang memintaku
untuk mengantarkan rombongan ke luar kota. Karena keahlianku menyetir,
satu-satunya aset Nilam yang tidak dijual di Jakarta adalah mobil APVnya
dipinjamkan kepadaku jika ada rombongan yang menggunakan jasaku.
Suatu saat budhe
sekeluarga mau pergi ke magelang berkunjung ke saudaranya yang hajatan. Aku
yang diminta menjadi sopir untuk mengantarkannya. Tak pelak karena acara
hajatan pernikahan aku juga diminta berdandan rapi dan ikut menghadiri
pernikahan itu. Tidak seperti sopir biasanya yang hanya menunggu di parkiran.
Saat memasuki acara tersebut banyak mata yang rasanya memperhatikanku, karena
Adelia minta bopong padaku. Disamping sifat manjanya padaku, di mobil Adelia
tidur. Mungkin masih ngantuk dan malas untuk jalan sendiri. Aku pura-pura tak
tahu dan tak kuhiraukan. Sedang budhe dan Nilam berjalan di depan kami sambil
sesekali bersalaman dan bertegur sapa dengan saudara-saudaranya.
"Alhamdulillah
mbakyu, akhirnya datang juga. Harusnya itu dari kemarin njenengan sampai
sini, masa ponakane nikah kok ra ditunggoni" Sapa seorang ibu yang
kemungkinan besar ibu dari mempelai.
"Maaf dik, sedianya
mau berangkat kemarin, tapi kemarin Nilam habis dari Wonosobo ngurus KK
dan KTPnya" Jawab budhe sambil masih bersalaman dengan ibu itu.
"Jadi nak Nilam
akhirnya menetap di Wonosobo lagi?. Ya syukur, jadi mbakyu sekarang tinggal
santai, kan dah ada Nilam." Kata ibu itu di sambut anggukan dan senyum
Nilam.
Aku hanya seperti
kambing congek yang hanya bisa tersenyum malu karena tak seorangpun ada yang
aku kenal.
"Lho mas ganteng
ini siapa mbakyu, aku kok kayaknya belum pernah ketemu." tanya ibu itu
pada budhe sambil meraih tanganku untuk bersalaman. Aku agak sedikit kerepotan
menerima tangannya karena menggendong Adelia.
"Ini anakku juga,
namanya Dwi. Dia putera dari pak almarhum Jahid dan almarhumah bu Sumi. Dari
ayahnya Nilam masih terhitung plunan. Kakeknya Nilam dari bapak itu kakak adik
dengan kakekknya nak Dwi. Tapi aku sudah menganggapnya seperti anakku
sendiri" kata budhe. Mendengar itu hatiku terharu seakan air mataku
meronta ingin keluar, tetapi aku tahan dan aku samarkan dengan senyumanku yang
mungkin terlihat agak kaku.
Dalam perjalanan
pulang aku masih terngiang kata-kata budhe tadi. Budhe dan Adelia duduk di
bangku belakang, sedang Nilam berada di sampingku. Mungkin karena kelelahan
semua terlelap, hanya aku yang berjuang menahan kantukku. Sesekali aku pandangi
wajah ayu Nilam yang tersandar di kaca pintu mobil. Sesekali kunikmati wajahnya
sesaat, dan rasa kantukkupun terkalahkan. Seandainya saja wanita berjilbab biru
ini adalah istriku.
"Mas.....,
nyetirnya yang konsen....!" kata Nilam sambil masih menutup matanya.
Aku terperanjat, dalam hatiku takut jangan-jangan dia tau kalau sesekali aku
memandang wajahnya.
"Siap....,
bu." jawabku dengan wajah agak pucat, karena takut ketahuan.
"Aku tuh nggak
tidur mas, capek sih. Tapi nggak bisa tidur" kata Nilam sambil beranjak
meluruskan duduknya.
"Mas Dwi belum
kepikiran nikah po? ingat umur, mas." ejeknya sambil meraih minuman di
dashboard.
"Bukannya nggak
mikir nikah, tapi masih belum nemu yang sreg di hati aja." Jawabku sambil
menghisap rokok.
"Emang mau nyari
yang kayak apa? yang cantik banyak, yang pinter juga banyak" katanya
sambil ngutak-atik smartphonenya.
"Iya sih, tapi
bukan itu yang aku cari, aku pingin yang nanti jadi istriku itu benar-benar
bisa mengerti keadaanku, ekonomiku yang pas-pasan dan banyak lagi
kekuranganku" kataku tetap sambil melihat ke depan.
"Terus...., yang
cocok dengan kriteria seperti itu siapa, mas? Emang temen-temen sekantor mas
dulu nggak ada?" tanyanya.
"Temen sekantor
mana ada yang cocok, temen sekantorku itu cowok semua. Ada satu cewekpun
anaknya bos udah nikah lagi." jawabku ketus.
"Nasib-nasib......,
salahmu sendiri sih mas. Aturan Njenengan itu kerjanya yang banyak
ceweknya" ejeknya sambil terbahak menertawakanku.
"Emang selama ini
nggak pernah pacaran?" tanyanya masih sambil tertawa.
"Bukannya nggak
mau pacaran, cuma nggak ada yang mau." katau sambil tertawa.
"Kalu suka
seseorang pernah kan?" tanyanya masih sambil menyisakan tawa.
"Pernah sih, ada
seseorang. Tapi..... sudahlah, mikirin nikah malah nambah pusing aja. Hehe"
sambil kuhembuskan asap rokok yang barusan memenuhi paru-paruku, mungkin saja
penat di dadku juga bisa ikut terbuang.
"Udah..., mas.
Nggak usah pikir panjang lagi, langsung nikah aja. Kelamaan keburu
kiamat." Katanya memecah desahan penatku.
"Nikah....nikah....!???
niakah ama siapa? pacar aja nggak punya. Cewek yang aku kenal deket cuma kamu.
Nikah sama kamu....????!!!" Jawabku sedikit ketus.
"Iya,mas. Nikah
sama aku aja, daripada nggak laku....." katanya sambil tertawa lebih
terbahak-bahak. Kamipun tertawa lepas tanpa beban, sampai keluar air mata. Tapi
tiba-tiba dia sedikit meredakan tawanya sambil menatap jauh entah kemana. Kani
berdua terdiam, saling terpaku dalam keheningan.
Tak lama kami sampai
di rumah budhe dan setelah semua turun aku langsung memarkir mobil di samping
rumah. Sedianya aku mau langsung cuci mobilnya, akan tetapi budhe mencegahku.
Besok saja katanya, kasihan kamu dah kecapaian. Sejurus aku langsung pulang dan
kurebahkan badanku di sofa ruang tvku. Masih terngiang tawa tawa dan senyum
Nilam tadi, seakan tak mau pergi dari benakku. Wajah ayu dengan jilbab biru.
Selama ini aku selalu melihatnya memakai jilbab dengan warna biru. Kadang biru
polos, kadang tosca, kadang bunga-bunga, tapi selalu biru. Hanya beberapa kali
aku melihatnya mengenakan jilbab selain warna biru, itupun warna ungu dan hijau
yang mendekati biru. Memang warna kesukaannya biru, dari kecil beli barang
apapun selalu biru.
Malam itu aku terlelap
entah jam berapa di sofa itu, setahuku adzan shubuh musholla yang tidak jauh
dari rumahku memanggilku dari alam mimpi. Karena tak ada acara lain, pagi ini
aku langsung menuju rumah budhe untuk memandikan si ganteng APV. Selesai nyuci
mobil, budhe sudah membuatkan kopi panas disandingkan singkong goreng, tak lupa
sebungkus rokok 76 filter. Setiap aku mengantarkan budhe memang aku selalu
menolak jika akan diberi upah, Jadi inisiatif budhe selalu memberikan rokok 1
bungkus untukkusebagai imbal jasa.
"Nak.... diminum
dulu kopinya mumpung masih panas." sambil menemaniku duduk di teras rumah.
"Iya...,
budhe." Jawabku seraya meraih cangkir kopi yang masih panas.
"Adelia mana,
budhe? kok nggak kelihatan." tanyaku sambil menyulut sebatang rokok.
"Dia lagi
didaftarin PAUD sama ibunya. Sekarang kan sudah 4 tahun." jawab budhe
Ningsih sambil menyodorkan singkong goreng yang segera kuraih.
"Ooooh, pantesan.
Biasanya kalau saya datang pasti langsung minta gendong ngajak
jalan-jalan." Kataku sambil menikmati singkong goreng hangat yang gurih.
"Nak Dwi, belum
pingin nikah po? Yang sepantaran kan dah pada punya anak semua. Si Nilam aja
yang sekolahnya satu kelas anaknya sudah 4 tahun." Tanya budhe sambil
tersenyum.
"Belum ketemu
jodohnya kali, budhe." Jawabku klise setiap budhe bertanya seperti itu.
"Nak.... "
kata-kata budhe terputus sebentar. Dengan nada lirih dan agak serius dia
meneruskan kata-katanya, akupun sedikit memelankan kunyahanku dan memperhatikan
kata-kata budhe dengan serius. Dia jarang sekali berbicara seserius ini.
"Seandainya saja
..., ini cuma seandainya lho. Jika tidak berkenan jangan diambil hati".
kata budhe, aku semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan budhe dan
kutelan semua sisa kunyahan singkong di mulutku.
"Sekali lagi ini
seandainya, budhe kan sudah nganggep nak Dwi seperti anak sendiri. Jika
seandainya budhe minta nak Dwi benar-benar menjadi anak budhe gimana???"
kata budhe sambil menatap tajam kepadaku. Aku tertegun dan bingung apa maksud
perkataan budhe itu.
"Maksud budhe
gimana?" tanyaku dengan nada yang sama sekali tak faham apa yang
dimaksudnya.
"Gini, nak.......
Nilam kan sudah dua tahun membesarkan Adelia seorang diri. Budhe merasa
setegar-tegarnya Nilam, dia tetap butuh seorang pendamping hidup.Sosok seorang
ayah juga sangat dibutuhkan Adelia. Sekali lagi ini seandainya, mengingat
status Nilam yang janda, maaf sekali lagi ini juga jika nak Dwi berkenan dan
tidak keberatan." jelas budhe. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku
dengar barusan dan bingung mau jawab apa.Sejenak aku terdiam tak tahu mau jawab
dengan bahasa apa. Seakan bahasa sehari-haripun hilang dari lidahku. Belum
sempat aku menjawab, budhe kembali menyambung kata-katanya.
"Maaf nak, jika
kata-kata budhe menyinggung nak Dwi." katanya dengan nada menyesal.
"Bukan itu maksud
saya, budhe." Jawabku agak terburu dan terbata.
"Sebenarnya saya
juga punya niat melamar Nilam, jujur sebenarnya kedekatan saya dengan Nilam dan
Adelia terasa berbeda buat saya. Saya menyayangi Nilam dan Adelia, tapi saya
masih perlu waktu untuk berbicara dengan Nilam. Dan saya takut perasaan saya
ini malah akan merusak persahabatan kami." sambungku.
"Alhamdulillah......,
syukurlah kalau begitu. Tak sengaja kemarin budhe mendengar candaan kalian di
mobil. Pikir budhe kenapa tidak diseriuskan candaan kemarin. Budhe juga sudah
ngobrol sama Nilam dan dia juga suka sama nak Dwi. Tapi karena statusnya yang
janda itu menjadikan dia tidak percaya diri." kata budhe dengan nada yang
sudah berbeda. Terlihat dimatanya rasa bahagia yang juga aku rasakan. Debar
jantungku belum sepenuhnya teratur. Beberapa saat kami melanjutkan perbincangan
kami dengan nada yang sudah mulai mencair setelah beberapa saat terksan serius
dan agak canggung.
Sepulang dari rumah
budhe, tanpa pulang ke rumah aku langsung ke rumah pamannku yang jaraknya
sedikit agak jauh. Aku menceritakan semuanya ke pamanku, karena karakternya
yang tegas dia segera akan melamar Nilam secara resmi keesokan harinya. Karena
dia juga pingin keponakan satu-satunya ini segera menikah.
"Ya udah besok
sore kamu siap-siap dan kabari calon istrimu itu, kita mau datang
melamar". perintah pamanku.
"Tapi..., paman.
Aku kan belum siap apa-apa untuk menikah." jawabku gelagapan.
"Itu dipikir
nanti, yang jelas kita datang melamar dulu. Masalah waktunya kapan kita
bicarakan saat acara lamaran nanti" tukas pamanku. Hari ini kamu harus
ketemu Nilam dulu dan bicara tentang ini.
Bakda dzuhur aku
datang ke rumah budhe untuk ketemu Nilam. Terang saja aku disambut dengan
senyum sipu dari bidadari yang berjilbab biru itu. Kali ini Nilam terlihat
berbeda dari biasanya. Nada bicara yang ketus dan tatapan matanya yang tajam
tak terlihat lagi. Dia hanya menunduk dan sesekali mencuri pandang padaku. Kami
berdua hanya saling terdiam. Lidahku kelu kali ini, padahal biasanya kami
selalu ngobrol dan bercanda. Aku mencari seribu jurus hanya untuk membuka
pembicaraan.
"Adelia mana, kok
sepi gini?" tanyaku basa-basi untuk memecah keheningan.
"Anu...., ikut
ibu ke pengajian di masjid" jawab Nilam sambil masih menunduk tanpa
melihatku.
"Gini....,
sebenarnya.....eeee.....sebenarnya ..... eeee" kataku sambil grogi seperti
anak SD disuruh maju di depan kelas untuk menghafalkan pancasila.
"Eeee...., aku
mau bilang sesuatu sama kamu." kata-kataku masih terbata-bata.
"Iya mas. mau
ngomong apa?" jawabnya singkat. Aku terdiam sejenak merangkai huruf untuk
kukatakan.
"Sebenarnya....,
sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi....." Kata-kataku kuputus dengan
menghela nafas panjang.
"Kita kenal dan
bersahabat kan sudah dari kecil. Kita sudah tahu kekurangan dan kejelekan
masing-masing. Seandainya kamu berkenan aku ingin melamarmu untuk jadi istriku.
Sebenarnya dari dulu aku sudah menyayangi kamu, tapi karena keadaanku aku tak
berani mengungkapkannya. Saat kamu menikah dulu aku memang kecewa karena tak
bisa menjadi orang yang bersanding di sisimu saat di pelaminan. Tapi aku tak
sepenuhnya kelhilanganmu, kamu masih tetap menjadi sahabatku walaupun kita
ketemu paling setahun hanya dua tiga kali. Aku tetap bahagia melihatmu bahagia.
Tapi jika kamu tidak berkenan aku minta maaf dan aku mohon kita tetap menjaga
hubungan persahabatan kita." kataku sambil sedikit tertunduk.
"Mas....,
seharusnya mas berpikir kembali. Aku ini janda anak satu, sedangkan mas bujang.
Masih banyak gadis yang lebih pantas mendampingi hidup mas." Jawabnya
dengan sendu sambil masih tertunduk.
"Dik...., aku
sudah berpikir dan berbulat tekad ingin mengarungi sisa hidupku denganmu, jika
kamu berkenan. Aku tak pernah melihat seseorang dari statusnya, tapi dari sifat
dan sikapnya kepadaku." sambungku.
"Jika mas memang
sudah mantap dengan keputusan mas dan sudah memikirkan segala resikonya, saya
terima pinangan mas dengan hati bahagia. Sebenarnya aku juga menyayangi mas
dari dulu. Tapi karena teman sebangku dulu waktu di SMP juga menyukai mas, jadi
kuurungkan niatku dan kukubur dalam-dalam perasaanku. Tapi semenjak
kepulanganku dari Jakarta, diam-diam perasaan itu tumbuh lagi seiring keakraban
kita semakin dekat akhir-akhir ini. Tapi aku sadar dengan posisiku yang sudah
tidak seperti dulu lagi." Jawabnya.
Perasaanku
meledak-ledak rasanya, seperti kembang api di malam lebaran. Esok sorenya
keluargaku datang melamar dan pernikahan kami disepakati satu minggu
setelahnya. Katanya lebih cepat lebih baik. Akupun sepakat dengan keputusan
keluarga kami. Bulan Sya'ban ini kami menikah, jadi puasa tahun ini sahur dan
bukaku tidak sendiri lagi, akan ada Nilam yang membangunkanku.
Kamipun menikah dengan
acara yang sederhana, kami hanya mengundang kerabat dekat dan tetangga dengan
acara pengajian dari Pak kyai pondok pesantren desa sebelah. Kami tinggal
serumah dengan ibu mertuaku. Sedangkan rumahku kami jadikan tempat usaha
kecil-kecilan. Kami membuka toko obat-obat dan alat Pertanian, mengingat desaku
yang agak jauh dari kota menurut kami usaha itu yang paling tepat. Tahun ini
adalah tahun pertamaku puasa dan lebaran bersama anak dan istriku. Setelah enam
tahun terkubur perasaanku ternyata Tuhan menumbuhkan kebahagiaan diantara kami
saat ini.
Terimakasih Nilam dan
Adelia.
Komentar
Posting Komentar