Senandung Biru






Derap bising motor bebek hitamku memenuhi simpang tiga dusun Mayungan dan sejenak kemudian terdiam di samping utara masjid. Kyai Burhan segera keluar dan menyapaku.
“Ealah sampean to mas, monggo-monggo masuk” Sapa Kyai Burhan dengan senyumnya yang wibawa.
“Njih pak lik....” jawabku singkat sambil mengikuti langkah Kyai Burhan.
Kami memasuki ruangan luas yang tergelar karpet hijau, di sudut ruangan ada satu set meubel yang sudah agak usang. Aku langsung duduk di karpet, tetapi Kyai Burhan meraih tanganku dan mengajak duduk di atas. Beliau memang terhitung saudara jauh dari ayahku yang detail urutannya aku sendiri pusing, tapi beliau selalu tak pernah mau kupanggil pak Kyai, aku dimintanya tetap memanggil beliau pak lik. Kyai Burhan memang seorang yang sangat sederhana, walaupun santrinya tergolong tidak banyak tapi beliau adalah seorang pengasuh pondok. Aku tetap menjaga unggah-ungguhku sebagai santri. Pondok pesantren “Nurul Khasanah” namanya tetapi orang lebih kenal dengan sebutan pondok mayungan. Sedang aku sendiri mondok di ponpes Roudlotul Muttaqien yang jauh dari mayungan, tetapi aku sering sowan beliau. Selain silaturahim sebagai saudara, aku sering mohon petuah dan do’a pada beliau. Kadang-kadang beliau yang memanggilku sowan, sekedar kangen dan ngobrol santai.
“Nduk..., bikin unjukan untuk tamu kita ini ya” suara Kyai Burhan lirih pada seorang gadis, tapi tetap terdengar olehku walaupun aku tertunduk.
Keramahan dan kesahajaan beliau memang tiada duanya. Sejenak kami berbincang, gadis yang tadi sesaat terlihat kini keluar sembari membawa minuman dan menghidangkannya di hadapan kami. Aku hanya bisa melirik wajahnya, tapi ternyata Kyai Burhan memperhatikan arah pandanganku.
“Ini Choir yang mondok di Tegalrandu” kata Kyai Burhan sambil memegang pundak putrinya.
“Nduk..., ini mas Dwi putrane pak dhe Salim” ujar Kyai Burhan mengenalkanku pada putrinya.
“Mari, mas....” suara merdu Choir sambil berlalu meninggalkan kami berdua.
Sepertinya Kyai Burhan memahami lirikanku tadi terlihat dari senyumannya yang tak biasa. Awalnya aku mengira dia adalah salah satu santri ndalem, tapi ternyata dia putrinya yang kedua. Aku belum pernah bertemu dengannya selama ini, hanya kakak perempuannya yang sering bertemu denganku dan kedua adiknya yang masih sekolah SD. Dia sama sekali tak mirip dengan kakaknya, mungkin secara genetik Choir lebih mirip ibunya. Luwes, ramah dan sedikit agak galak kelihatannya.
Tak lama dari pertemuanku yang pertama dengan Choir, aku kembali sowan ke pondok Mayungan. Tapi kali ini selain ada kepentingan memintakan do’a untuk saudaraku yang sakit, ada niat tersembunyi di hatiku untuk sekedar melihat si jeita Choir. Seperti waktu-waktu yang lalu, masih dengan motor bisingku yang menemaniku sowan ndalem Kyai Burhan.
“Monggo......, wah ada tamu agung ini” celetuk jelita cantik yang sedang menyapu teras pagi itu.
“Nggih, ning....” jawabku sembari memarkir si Hitam motor kesanganku.
“Jangan panggil ning dong, mas. Nggak terbiasa, apalagi dari keluarga kita mas Dwi lebih tua dariku” jawabnya sambil tersenyum kecil. Sedang aku hanya membalas senyumnya dan mengikutinya masuk ruang tamu besar itu.
Tidak seperti biasanya, keadaan pagi ini di Mayungan terasa sepi dan hening. Hampir tak terlihat santri-santri yang biasanya jam segini sibuk menyapu halaman atau persiapan untuk berangkat sekolah. Hanya beberapa santri senior yang masih terlihat. Duduk sendirian agak lama di ruangan itu membuatku berhayal yang tidak-tidak tentang gadis yang terhitung masih adik sepupu jauhku itu.  Betapa bahagianya aku, jika dia yang menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Seorang gadis lulusan pondok Tegalrandu yang sudah hafal seribu dua nadzom alfiyah. Tentu anak-anakku akan sealim dia nanti. Cantik, sholikhah, alim dan bersahaja seperti abahnya. Entah berapa lama aku terlelap dalam lamunan indahku atau bisa saja itu do’aku yang selama ini sudah dikejar-kejar umur yang semakin tua.
“Mas...., minum dulu. Maaf agak lama nunggunya, habisnya nggak pakai kompor masak airnya” suara lembut yang membuyarkan keindahan anganku.
“Iya ning....” jawabku sambil membenahi posisi dudukku.
“Tuh kan.... masih panggil ning lagi mas Dwi tuh” celetuknya sambil manyun dan perlahan duduk sambil memangku baki tempat gelas tadi.
“Eh iya...., maaf... dik cantik hehehe” jawabku menggoda wajah cemberutnya.
“Mas Dwi malah ngledekin......” katanya sambil nyengir.
“Dik..., tumben pondok kok sepi gini? Biasanya rame, banyak santri-santri cantik nyapu halaman kalo jam segini.” Tanyaku memecah keheningan sesaat.
“Tuh....,, tadi bilang aku cantik, sekarang santri-santri putri yang cantik” godanya manja.
“Ya santri-santri putri Mayungan memang terkenal cantik, tapi aku baru tahu ternyata ningnya lebih cantik lagi, hehehe” candaku menjalin keakraban kami.
“Gombal....!!!” timpalnya sambil tertawa kecil dilanjutkan senyum semanis madu tawon asli.
“Eh.... kok santrinya pada raib kemana. Pak lik juga lagi tindakan po, dik? Tanyaku.
“Oh...., santri-santri lagi libur mas. Ini kan habis Haflah akhirussanah, masuknya nanti pertengahan bulan Sya’ban. Bapak sedang ke sawah sama kang Taqin, melihat tanaman padi yang sudah menguning dan sebentar lagi panen. Sebentar lagi paling pulang, lha wong perginya dari pagi sekali kok” penjelasannya panjang lebar. Sedangkan aku hanya mendengarkan dan sesekali mencuri pandang.
“Kira-kira jam berapa ya kondur?” menyambut penjelasannya barusan. Walaupun batinku sebenarnya berkata sampai dluhurpun aku rela menunggu jika ditemani bidadari secantik dan seanggun ini.
“Bentar lagi paling, mas. Biasanya jam segini dah pulang kok” jawabnya sambil menengok jam tua di dinding kayu sebelah timur.
“Assalamua‘alaikum......, sudah lama nak Dwi?” Sapa Kyai Burhan sembari membetulkan kancing dan kerah bajunya sambil mengulurkan tangannya menyalamiku dan duduk di samping putrinya.
“Wa’alaikumsalam, belum lama pak lik” jawabku sambil bersalaman dan mencium tangannya. Segera aku duduk kembali dengan posisi berbeda dari posisi semula.
“Tadi pas lewat samping rumah aku dah lihat motor hitam nak Dwi, jadi aku langsung mandi sekalian. Keluarga sehat, nak?” Kyai Burhan membuka perbincangan.
“Alhamdulillah, sehat semua. Pak lik sekeluarga sehat juga kan?” jawabku
“Maaf, pak lik. Saya sowan pak lik yang pertama silaturahim dan kangen sama Mayungan. Yang kedua, saya dimintai pak To saudara saya dari ibu untuk meminta do’a untuk istrinya yang sedang sakit” aku menyatakan maksud kedatanganku.
“Ya ya, terimakasih nak Dwi sudah berkenan silaturahim ke Mayungan. Bener...., kangennya sama Mayungan?” jawab Kyai Burhan sambil tersenyum menggodaku dan melirik ke arah putrinya yang ada di sampingnya yang membuatku gelagapan dan salah tingkah. Sedang Choir hanya tertunduk padam sambil mencubit ayahnya.
“Oh, istrinya pak To sakit apa nak?” tanya Kyai Burhan setelah sejenak tertawa kecil menggodaku dan putrinya.
“Anu..., pak lik. Sakitnya aneh, bukan penyakit medis. Seperti kerasukan makhluk ghoib atau apa gitu. Pasalnya dia sering berbicara yang bukan-bukan dan sering ngamuk. Tenaganya berlipat-lipat, bahkan pak To sendiri kewalahan.” jelasku serius.
“Mmmmm...., nama lengkapnya siapa, nak?” tanya Kyai Burhan.
“Wasiyati bin-nya..... mmmm...... mbah Karto” jawabku sambil menempelkan tanganku di kening berusaha mengingat nama almarhum mbah Karto.
“Oh ya, sebentar ya nak” katanya sambil bergegas masuk ke dalam.
Tinggallah aku dan bidadari yang tersipu tertunduk malu, tak seperti tadi renyah kata-katanya membinarkan suasana. Sepertinya candaan ayahnya barusan masih mempengaruhinya.
“Dik...., kapan njenengan mbalik ke pondok lagi?” tanyaku meredakan ketegangannya.
“Saya sudah pindah gothak, mas” jawabnya dengan nada yang sudah agak melunak.
“Oh....., dah mau nikah po? Kok dah pindah gothak” candaku
“Ya belumlah, mas. Belum ada yang nglamar” jawabnya sambil tersenyum tanpa canggung lagi.
“Oalah...., sudah ada calonnya to. Berarti aku harus patah hati lagi. Huhhhh.......” candaku sambil menepuk kening.
“Huuu....., digombalin lagi deh. Calonnya sih sudah ada, masih di pondok. Kalo nggak salah Roudlotul Muttaqien pondoknya, santrinya Gus Fadlun dan Gus Imdad tapi belum tamat alfiyah” ledeknya sambil nyengir dan mencibirkan bibir mungilnya.
“Yah malah gantian aku yang dikerjain ini” kataku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Iya deh, ning cantik lulusan tegalrandu yang sudah hafal seribu bait alfiyah. Aku ngaku kalah kalau sudah pakai si alfiyah yang sombongnya minta ampun. Dihafalin satu tahun belum juga mau nempel di jidatku. Lihat aja nanti, walaupun belum hafal seribu tapi kalau sudah haflah tahun depan, separuh dari jumlah baitnya akan menemaniku melamarmu, dik” sambungku sambil berlagak serius walaupun bercanda.
“Tak tunggu tenan lho, mas” sahutnya sambil tertawa.
Dalam hati aku berdo’a apa yang menjadi candaan kami hari ini suatu saat menjadi kenyataan indah hidupku. Harapku apa yang dia katakan dalam obrolan kami barusan adalah isi hatinya.
“Maaf agak lama, nak” suara Kyai Burhan sambil berjalan menuju tempat duduk kami.
“Nggak papa” jawabku sambil meraih gelas kopi yang masih terisi setengah.
“Mas, aku ke belakang dulu. Mau beres-beres, ntar kerjaan terlantar semua kalau di sini terus” pamit Choir disusul langkahnya pergi dari ruang tamu.
“Monggo” jawabku sambil melirik kepergiannya.
“Nak, memang sepertinya ada makhluk dari ladangnya pak To yang ikut pulang sama bu Wasiyati. Mungkin merasa terganggu dengan kegiatan di tempat itu. Ini saya kasih air, nanti diminumkan sedikit dan sebagiannya lagi di usapkan ke muka. Yang mengusapkan njenengan saja, sebelum mengusapkan nak Dwi baca bismillah tujuh kali bilaa nafas dan ayat kursy tiga kali bilaa nafas juga” dhawuh Kyai Burhan dengan rinci dan seksama.
“Qobiltu...., nydahong pendonganipun semoga cepat sembuh dan saya mohon dido’akan semoga saya bisa melaksanakan dhawuhnya, pak lik” jawabku menerima dhawuh Kyai Burhan.
“Mohon maaf, pak lik. Sepertinya sowan saya sudah cukup dan waktu sudah siang, saya mohon pamit dulu” pematurku pada Kyai Burhan.
“Kok buru-buru nak Dwi, dolan dululah syukur-syukur nginep Mayungan kolo-kolo” jawab Kyai Burhan sambil menyambut hangat uluran tanganku dan langsung kucium tangannya.
“Bu...!!! Nak Dwi mau pamitan, dari tadi malah diterlantarkan belum diajak makan” teriak Kyai Burhan pada bu lik Ruroh istrinya.
“Belum boleh pulang dulu, pokoknya harus menemani pak likmu makan dulu. Maaf dari tadi belum sempat nemuin nak Dwi, sibuk di dapur sendirian cuma sama Choir saja. Santri-santri putri lagi pada libur” kata bu Nyai Ruroh padaku sambil menyeretku ke ruang makan yang terletak di ruang tengah.
Setelah makan bersama Kyai Burhan, aku segera berbenah tas punggungku dan kukenakan jaket almamater pondokku.
“Pak lik, bu lik, setelah saya ditawan untuk makanan lezatnya bu lik, maka saya jadi untuk pamitan. Terima kasih untuk masakan bu lik yang suka bikin kangen” kataku seraya berdiri dan kembali cium tangan sama Kyai Burhan.
“Choir....!!! Nak Dwi mau pulang ini....” bu lik Ruroh memanggil anaknya.
Sesosok wajah yang tak kehilangan ayunya walaupun bajunya agak kotor oleh aktifitas dapurnya terbit dari balik tirai pintu tengah.
“Kok udah mau pulang aja, mas. Baru jam segini, mbok nanti sore. Main dulu, mas.” Kata Choir sambil kembali tersenyum kecil.
“Udah siang ning, masih banyak acara lagi” jawabku sambil berjalan pelan kearah pintu keluar diikuti ketiganya.
“Nak Dwi...., tadi bukan masakan bu lik lho, tapi Choir yang masak.” Bisik bu lik Ruroh.
“Wah...., masakan dik Choir sudah mirip masakan bu lik Ruroh lho.” Godaku pada Choir yang berjalan tepat di belakangku.
“Tapi enakan masakanku kan?!!.” Sahut bibir mungil di belakangku.
“Iya iya, enakan lagi besok kalau kesini lagi dik Choir yang masak lagi.” Jawabku sambil memakai helm dan menuju motorku.
“Siap, mas. Jangan kapok main ke sini ya...!!!” Sambil melambai kecil.
“Kepareng, Assalamu’alaikum” kataku sambil menganggukkan kepala tanda hormat.
“Wa’alaikumsalam....” jawab mereka serentak.
Beberapa kali dalam bulan-bulan berikutnya aku sowan kembali, dengan agenda yang agak mirip-mirip. Harapanku semakin tinggi, angan dan rencanaku kutata rapi. Setelah Haflah Akhirussanah pondokku nanti aku akan melamarnya secara pribadi, baru setelahnya keluargaku melamarnya secara resmi. Waktu berjalan seakan lebih panjang dari biasanya. Enam bulan sebelum Haflah aku sudah disibukkan dengan beberapa persiapan, dari mendesain logo acara, mendata alumni dan wali santri juga merencanakan agenda kegiatan yang masih enam bulan lagi itu. Choir dan semua rencana indahku aku nomer duakan dulu untuk konsentrasi menghadapi kesibukan tugasku.
Seperti biasanya, setelah sholat ashar aku bergegas ke kantor pondok dan kembali duduk di depan komputer. Sebelum bermesraan dengan mouse dan keyboard, aku terbersit menggapai handphone nokiaku yang biasa kutaruh di samping monitor komputer. Sebelum sampai tanganku meraihnya, nada dering monoponicnya berbunyi. Kulihati nama Choir Mayungan muncul di layar kecilnya. Hatiku berdebar-debar, entah kenapa nama yang beberapa waktu ini sengaja aku tepikan tiba-tiba muncul lagi di HP jelekku ini. Segera kuangkat panggilannya dan kutempelkan HP-ku ke telinga dengan perasaan yang tak karuan dan penuh kerinduan.
“Assalamu’alaikum.....” suara lembut agak serak di ujung sana.
“Wa’alaikumsalam, apa kabar dik? Sehat?” jawabku sambil menata nafasku.
“Alhamdulillah baik, mas. Mas Dwi sendiri sehat?” jawab sekaligus tanyanya padaku dengan suara yang masih agak serak. Mungkin sedang kurang sehat pikirku.
“Alhamdulillah sehat.” Jawabku dengan nada yang sudah biasa.
Kami berdua terdiam sejenak, akupun bingung mau ngomong apa.
“Mas Dwi hari Senin ini ada waktu apa nggak, mas?” tanyanya agak terbata.
“Emang ada apa dik? Nggak biasa-biasanya.” Kujawab pertanyaannya dengan pertanyaanku.
“Mas hari Senin ini dateng ke rumah ya” katanya semakin terbata.
“Ada acara apa, dik? Jangan-jangan dik Choir mau nikah ini.....” candaku seperti biasanya.
Kembali, Choir terdiam dan hanya terdengar hembusan nafasnya yang tak teratur.
“Nggih, mas.......” jawabnya disambung dengan isakan tangisnya.
Aku tak bisa melafalkan kata, tak bisa kueja semua huruf. Dadaku seakan sesak penuh dan meronta seperti akan meledak.
“Beneran, dik? Nggak bercanda kan?” tanyaku memastikan kebingunganku.
“Ng......nggih, mas” jawabnya terisak.
Semakin panas dan mau meledak rasanya seluruh tubuhku. Tanpa kusadari air mataku mengalir di pipiku. Semakin kutahan malah semakin membanjiri pipiku.
“Dik...., jika itu memang benar. Aku mendo’akan semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah. Segera dikarunai keturunan yang sholikh-sholikhah. Mohon maaf, aku hanya bisa mendo’akan dari jauh saja. Sedangkan untuk datang hari Senin kayaknya aku tidak bisa. Maaf, sebelumnya mohon beribu maaf. Njenengan harus maklum kepadaku karena tidak bisa memenuhi undanganmu, mungkin aku baru bisa sowan hari Selasanya.” Terhenti sejenak kata-kataku. Sedang di ujung sana masih terbisu, hanya sesekali isakan terdengar.
“Dik...., senin aku ada acara”. Sambungku.
“Mas...., adik nggak mau tau apapun alasannya, pokoknya hari senin mas harus dateng...!!! Kalau hari Selasa mending nggak usah sekalian mas. Nggak ada gunanya, mas.” Katanya tegas seakan marah padaku.
“Dik....., kali ini mas jujur kenapa hari Senin itu mas nggak bisa datang. Dik..., pada hari Senin itu mas nggak akan sanggup melihat wanita idamanku bersanding dengan orang lain. Mas nggak akan sanggup........” Semakin deras air mataku berlinangan kemana-mana.
“Sebenarnya guyonan mas waktu itu bukanlah guyonan. Mungkin awalnya hanya guyonan, tapi lambat laun itu semua menjadi do’a selepas sholatku, dik.....” lanjutku.
“Mas...., aku tau dan itupun jadi do’aku, mas. Tapi semua sudah terlambat, mas. Aku sudah dilamar pak kyaiku dan dijodohkan dengan santri pilihannya. Aku tak kuasa menolaknya, apalagi orang bapakku yang alumni Tegalrandu. Aku hanya harus dan akan mematuhi keputusan bapak, walau sakit.” Nadanya lirih dan kembali terisak.
“Mas..., aku do’akan semoga mendapat jodoh yang lebih segala-galanya dariku”. Lanjutnya agak tersendat-sendat.
“Baiklah...., dik. Seperti apapun rasanya akan kutanggung, sesakit apapun akan kurasakan. Mas insyaalloh akan datang Senin nanti.” Kataku sambil beberapa kali tersela hembusan nafas panjang.
“Mas...., adik tunggu kedatangannya. Setidaknya saat adikmu ini menikah mas ada di sana. Nggih mpun, maaf adik telah mengganggu kesibukan mas hari ini. Assalamu’alaikum.” Suara lembut dan serak itu dari ujung sana.
“Nggih, mboten nopo-nopo. Wa’alaikumsalam” jawabku sambil masih menempelkan Hpku di telinga, walaupun komunikasi kami telah putus.
Tak ada kata yang dapat melukiskan betapa kaget, sedih, kecewa dan bingungnya aku saat itu. Aku urungkan niat awalku menghidupkan komputer kantor pondok. Hanya termangu memandangi HP di tanganku. Tak terbayangkan apa yang harus aku lakukan dan apa yang akan terjadi senin nanti. Sekarang hari jum’at dan kegiatan ngajiku libur, tiga hari lagi maka hari senin itu akan tiba. Aku harus datang senin nanti, dan aku harus menata rasa dan hatiku. Aku harus tegar dan tak boleh mengotori hari suci bidadariku itu dengan tangisku.
Tiga hari berlalu terlalu cepat, dengan persiapan matang aku berangkat dengan motor hitam tuaku. Tapi lebih dulu aku mampir ke tempat temanku Ana, dia adalah teman sekelas adik kandungku waktu di SMP, dia jugalah yang sering aku curhati tentang Choir dan kekagumanku. Dia kuajak sebagai pendampingku saat acara kondangan ke Pondok Mayungan, agar aku terlihat tegar walaupun sebenarnya hatiku hancur berkeping. Dalam perjalanan kami banyak ngobrol dan Ana mencadaiku. Dia tahu aku begitu terpukul dan aku tahu dia mencoba menghiburku. Beberapa tawa kecil berhasil dibuatnya padaku, walau itu tak meredakan perihnya sayatan hati ini.
Tiba di pertigaan Mayungan detak jantungku seakan tak berirama. Kami disambut senyum-senyum manis para among tamu di depan tenda acara. Celakanya..., acara akad nikah baru saja berlangsung. Aku hanya berdo’a semoga aku tidak jatuh pingsan. Padahal aku berangkat sesiang ini agar tidak menyaksikan bidadari idamanku itu diresmikan bukan hakku dan menjadi milik entah siapa orangnya. Selesai akad nikah kedua mempelai dipertemukan, hampir saja air mataku tak tertahan.
“Mbah...., mantan sampean ternyata cantik juga ya” bisik Ana di kupingku lirih. Tak kujawab dan aku hanya tersenyum kecil menutupi segala kesedihanku.
“Ikhlasin aja, mbah. Setidaknya pura-pura ikut bahagia. Bidadari yang itu sudah milik orang, aku kan pura-puranya jadi bidadari pengganti. Lagian cantikkan bidadari penggantinya kok.” Katanya membisikiku diakhiri cekikikan kecil. Tak pelak akupun tersenyum agak lebar.
“Ono-ono ae, ra ngerti aku gi sedih po....” sambil kucubit tangannya.
“Biar sekarang nggak sedih, acara drama-dramaannya nanti kalau dah pulang aja” jawabnya sambil masih tersenyum.
 Sebelum acara resepsi dimulai Kyai Burhan pandangannya menelusuri seluruh tempat di depan masjid itu. Setelah didapatinya aku, segeralah beliau memberikan isyarat untuk aku masuk ndalem lewat pintu belakang. Karena memang ruang depan penuh dengan tamu VIP. Sebelum acara panggih Kyai Burhan sempat melihatku duduk diantara tamu, beliau hanya memandangiku dan tersenyum agak lain. Setelah memutar dari arah utara segeralah Kyai Burhan menyambutku di pintu dapur dia langsung meraihku dan Ana. Segera kami dibawa masuk ke kamar belakang. Di ruangan kecil itu tengah berdiri bidadari dengan pakaian pengantin yang sangat cantik. Yah Choir sedang dibenahi gaunnya, jilbabnya ditambah pernik dan hiasan. Aku dan Ana duduk berdampingan di deretan kursi plastik warna hijau dekat pintu masuk. Setelah menyadari kehadiranku dan selesai riasan akhirnya, Choir segera menyapaku dan duduk di sampingku.
“Sudah dari tadi, mas?” tanya choir dan senyumnya yang datar.
“Belum lama, kok.” Jawabku juga dengan senyum yang kubuat untuk menutupi perih di dadaku.
“Terimakasih, mas. Udah berkenan datang.” Kata Choir sambil sesekali melirik ke arah Ana. Sedang Ana hanya senyum dan sering kali tertunduk.
“Dik....., mohon maaf..... mas datang ke sini tidak bisa membawa apa-apa. Hanya bisa mendo’akan semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah. Kelak dikaruniai keturunan yang sholikh-solikhah. Mas ikut bahagia untu kebahagiaan adik hari ini, dan.... semoga bahagia selamanya. Mohon maaf sekali lagi....., hanya bisa mendo’akan.” Kataku sambil berdiri menyerahkan kado yang entah isinya apa, karena Ana yang aku minta memilih dan aku tak sempat mengingatnya.
“Dik...., sekali lagi untuk kesekian kalinya aku mohon maaf banget, karena aku tidak bisa mengikuti acara sampai nanti. Mas harus pamit saat ini, karena masih ada acara dan tugas yang belum aku selesaikan.” Kataku melanjutkan.
Tanpa berkata apapun Choir segera meraih kado di tanganku dan langsung dipeluknya erat sambil terduduk dari posisinnya yang semula berdiri. Terlihat matanya berkaca-kaca dan wajahnya menunduk. Wajahnya  yang semula kekuningan berubah menjadi putih pucat.
“Nggak....., nggak...., pokoknya mas nggak boleh pulang.” Katanya sambil menggeleng-nggelengkan kepala dan tetap menunduk.
Akupun ikut duduk di kursiku semula. Dan hanya menghela nafas berat.
“Ada apa sih, kok harus pulang segala, mas?” tanyanya dengan nada curiga.
“Dik..., besok akan ada acara Pelatihan di Jatimalang dan mas panitianya. Hari ini harus survey lokasi. Hari ini juga sebenarnya teman santri putra ada yang menikah dan mas yang didaulat untuk menjadi MC-nya. Tapi demi adik, mas gagalkan permintaan temanku itu dan sudah mas minta mencari pengantinya. Tapi untuk acara Pelatihan itu tetap tanggung jawab yang tidak bisa dilempar.” Terangku untuk meyakinkan alasanku.
Walaupun dengan wajah yang masam akhirnya dia menerima alasanku. Sebelum beranjak pergi, aku sempat dikenalkan dengan pria muda yang sudah menjadi suami bidadariku itu oleh Kyai Burhan dan Bu Nyai Ruroh. Sepertinya beliau tahu apa yang terjadi diantara aku dan putrinya. Sambil menepuk-nepuk pundakku beliau mendo’akan agar aku mendapat jodoh yang sholikhah. Sedang Bu Nyai Ruroh bersalaman dengan Ana.
“Ini calonnya nak Dwi ya?” tanya Bu Nyai Ruroh sambil masih memegang tangan Ana.
“Eng.... gih bu lik. Pendongane kemawon” jawabku agak sedikit gelagapan, karena bukan termasuk rencana. Sedang Ana hanya tersenyum pura-pura malu.
Setelah berpamitan aku memilih jalan yang berbeda dari jalur masuk lokasi resepsi. Setelah ketemu motorku yang kuparkir di depan rumah pak RW tak jauh dari lokasi, segera kulajukan motor hitam itu menuju pulang. Hati dan anganku hancur sudah, semua harapanku sirna. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana. Setelah mengantar Ana pulang, tibalah aku kembali di pondokku. Kubaringkan tubuhku di karpet kantor. Kupejamkan mataku dan terbayang lagi kejadian yang tadi kualami dan rasakan. Mataku kembali terasa perih dan kembali air mataku menetes entah yang kesekian ratus kalinya.
Dalam hening itu aku hanya berdo’a agar Allah menguatkan hatiku. Aku hanya tergeletak dan tak berdaya. Hari-hariku selanjutnya berlalu hampa dan hambar, Senin itu masih terus melekat detik demi detiknya di hati dan benakku.
Semoga dan sepertinya engkau bahagia wahai bidadariku yang senandung birumu selalu ku kenang sepanjang hayatku.

Tembelang, 22 Maret 2018
Pukul 06:06 WIB


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bidadari Jilbab Biru

Syarah Rindu

Kalam Biru